Senin, 04 Januari 2010

Tentang Filosofis PENDIDIKAN BARAT dan ISLAM

Tentang Filosofi Pendidikan Barat Dan Islam

Oleh : Miskam
Tulisan singkat ini adalah cuplikan dari isi buku “Filosofi Pendidikan Barat Dan Islam “ yang ditulis oleh Dr. Sembodo Ardi Widodo,M.Ag.
sebagai tugas Mata Kuliah TKIP
Program S2 Manajemen Pendidikan Unmul Samarinda
2009/2010




Filsafat pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu pendekatan didalam memahami dan memecahkan persoalan – persoalan mendasar dalam pendidikan, seperti :
1. Menentukan tujuan pendidikan
2. Kurikulum, metode pembelajaran
3. Persoalan manusia, masyarakat dan kebudayaan yang tak terpisahkan dengan dunia pendidikan itu sendiri.
Untuk memahami suatu aliran filsafat tidak dapat terlepas dari pemikiran tokoh sentralnya. Misalkan untuk memahami filsafat fenomenologi, tentu harus memulai dari pemikiran filosofis Edmun Husserl. Demikian juga untuk mengerti apa arti dan makna Instrumentalisme, Pragmatisme atau Progresivisme harus menelaah pemikiran John Dewey, begitu pula aliran-aliran filsafat lainnya.

Sementara itu untuk memahami dasar-dasar filsafat penddikan Islam, dapat didekati secara normatif maupun historis. Secara normatif, dasar-dasar pendidikan Islam dapat dirujuk langsung dari sumber primernya yaitu Alquan dan Hadis. Selanjutnya dari aspek historis, filasafat pendidikan Islam dapat dipahami dari berbagai pemikiran para tokoh pendidik muslim yang secara serius telah mencurahkan pemikiranya dalam pendidikan Islam.

Secaraglobal dalam tulisan ini mengkaji berbagai permasalahan seperti permasalahan mengenai filsafat, pendidikan dan filsafat pendidikan, secara umum akan dibahas dalam tentang kajian fungsi pendidikan sebagai pewarisan budaya, transformasi budaya, dan pengembangan individu, serta membahas tentang apakah manusia itu bebas berkehendak atau perbuatanya selalu deterministik dan dilanjutkan dengan memaparkan beberapa pemikiran filosofis dari aliran filsafat fenomenologi, struturalisme, instrumentalisme, dan esensialisme (Idealisme dan realisme ) dengan ragam pemikiran para tokoh sentralnya.
Kemudian pada bagian akhir tentang analisis perbandingan dasar-dasar filafat pendidikan esensialisme dan Islam yang membahas tentnag epistemologi pendidikan Islam.

1. Filsafat dan Pendidikan

Pengertian dan Tugas Filsafat
Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu, kata philo yang berarti cinta dan sophia yang berarti kebijaksanaan, sehingga filsafat dapat diartikan sebagai “ cinta kepada kebijaksanaan “

Dalam tradisi pemikiran filosofis Yunani, yang dimaksud kebijaksanaan adalah suatu pemahaman atas “ kebenaran-kebenaran pertama” , seperti baik, adil dan kebenaran itu sendiri serta penerapan-penerapan dari kebenaran – kebenaran pertama dalam problem kehidupan.

Selanjutnya tentang tugas filsafat, yang pertama yaitu tugas untuk menjelaskan arti dan menentukan hubungan – hubungan dari konsep-konsep fundamental, sehingga dapat diperluasskopnya kepada ilmu pengetahuan yang lain.
Tugas filsafat yang lainnya yaitu, megungkapkan secara jelas sebab sebab dari setiap kejadian, sehingga kita dapat mengetahui dengan pasti apa yang dimaksud dengan “ sebab “, “ perubahan “, dan sebagainya.

1. Cabang-cabang Filsfat
a. Logika
Logika merupakan cabang filsafat yang membicarakan tertang aturan-aturan berpikir agar dapat diambil kesimpulan yang benar.
b. Ontologi
Ontologi merupakan cabang filsafat yang membicarakan tentang hakekat tentang segala sesuatu yang ada
c. Epistemologi
Cabang filsafat yang menyelidiki tentang asal mula,susunan, metode-metode dan syahnya pengeahuan adalah Epistemologi
d. Etika
Etika digunakan dalam tiga hai, yaitu : 1). Etika berarti pola umum atau way of life seperti etika budhis atau etika kristen. 2). Etika berarti seperangkat aturan-aturan tingkah laku atau moral kode. 3). Etika berarti penyelidikan mengenai way of life.
e. Estetika
Estetika membicarakan definisi,susunan dan peranan keindahan, khususnya dalam seni. Selanjutnya masing-maing cabang filsafat tidak dapat dipisahkan secara tegas

2.PENDIDIKAN
Pendidikan terkait dengan aspek kehidupan dan kepentingan, maka pendidikan itu sangat komplek, saling tarik menaik antar kepemtingan ideologi, politik,sosial, agama, ekonomi , budaya dan sebagainya.
Menurut M.J. Langeveld “ Pendidikan atau pedagogi itu adalah kegiatan membimbing anak manusia menuju keewasaan dan kemandirian “, sedangkan menurut Kingsley : Pendidikan adalah proses yang memungkinkan kekayaan budaya non fisik dipelihara atau dikembangkan dalam mengasuh anak-anak atau mengajar orang-orang dewasa.


Sumber Baaan : Kajian Filosofis PENDIDIKAN BARAT dan ISLAM
Penulis : Dr. Sembodo Ardi Widodo,M.Ag.
Penerbit : PT. Nimas Multima, Jakarta
Jl. Intisari raya No.27, Pasar Rebo, Jakarta 13790
Telp.(021) 8701331
Ceakan Pertama Juli 2003
Cetakan Kedua November 2007
ISBN 979-9005-33-7

Sekilas Tentang Landasan Pendidikan

Landasan Pendidika Konsep dan Aplikasinya

Oleh : Miskam , SPd
SMP. Negeri 1 Sangatta- Kutai Timur


I. Pendahuluan

Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia merupakan aspek dan hasil budaya terbaik yang mampu disediakan oleh setiap generasi manusia untuk melangsungkan kehidupan dan cara hidup dalam kontek sosio budaya.

Untuk mengimbangi kamajuan jaman dan tantanganya yang semakin pesat, guru dituntut terus belajar, kreatif dalam mengembangkan diri, serta harus selalu menyesuaikan pengetahuan dan cara mengajar terhadap penemuan baru dalam dunia pendidikan,psikologi dan pengetahuan teori belajar agar tidak timbul masalah-masalah atau kendala dalam pendidikan.

Namun demikian jika teerpaksa timbul permasahan dalam pendidikan maka masalah tersebut dapat diminimalisir dengan kembali pada acuan teori belajar. Acuan ini diharapkan dapat menjadi pijakan yang memberikan kejelasan terkait dengan hakekat pendidikan.

II. HAKEKAT PENDIDIKAN

Pemahaman sederhana hakekat pendidikan adalah memandang bahwa setiap insan yang hadir di muka bumi sebagai amanat yang harus dijaga dan dipelihara sebaik-baiknya, disinilah peran penting pendidkan. Selanjutnya menyadari akan pentingnya peranan pendidkan, maka langkah pertama yang harus dilakuakan adalah memahami terlebih dahulu hakekat pendidikan. Pemamahaman tehadap hakekat pendidikan akan menyebabkan kita akan memahami peran, memndudukkannya dan menilai pendidikan secara proporsional.

A. Pendidikan

Menurut Purwanto (1995) , bahwa dalam hakekat pendidikan mengandung dua istilah yang harus dipahami yaitu kata paedagogie ( pendidikan ) dan paedagogiek ( ilmu pendidikan ), secara estimologi istilah paedagogik adalah ilmu atau teori yang sistematis tentang pendidikan yang sebenarnya bagi anak smpai mencapai kedewasan.

Pendidikan dimulai dari keluarga terhadap anak yang belum mandiri, diperluas kelingkungan sekitar, lembaga pra sekolah, persekolahan dan seterusnya dari kelompok kecil hingga besar dengan pendidikan dimulai degan guru (dalam kelas) sebagai pengganti orang tua.

B. Mendidik

Mendidik menurut langeveld adalah mempengaruhi dan membimbing anak dalam usaha mencapai kedewasaan. Selanjutnya menurut Ki Hajar Dewantara, mendidk adalah menuntun segala kekuwatan kodrat yang ada pada anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakatdapat mencapai keselamatan dan kebahagian setinggi-tingginya.

Aplikasi proses mendidik berbeda dengan mengajar ( menyajikan seperangkat bahan ajar berupa pengetahuan, nilai-nilai atau deskripsi ketrampilan kepada siswa ). Dari kata mengajar timbullah pengajaran dan kemudian pembelajaran. Pengertian pembelajaran adalah usaha sadar agar orang menjadi tertari dan nyaman dalam belajar.

C. Filosofi Pendidikan Nasional

Berdasar pengalaman sejarah yang panjang bangsa indonesia, milai dari jaman kerajaan, penjajahan ,awal kemerddekaan sampai sekarang, maka sudah barang tentu para pendiri republik ini dalam menentukan filosofi pendidkan nasional akan bertitik lolak dari akar budaya bangsa Indonesia dengan repleksi historis bangsa Idonesia.

Selain akar budaya dan historisbal juga memperhatikangsa Indonesia, maka filosofi pendidikan nasional juga memperhatikan kehidupan bangsa-bangsa lain di dunia, sehingga pendidikan di Indonesia dapat dipahami dan msmiliki yang sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

D. Tujuan Pendidikan

Plato mengataka bahwa tujuan pendidikan yang sesungguhnya adalah penyadaran terhadap self knowing dan self realization kemudian inquiry dan reasoning and logic. Jadi tujuan pendidikan memberikan penyadaran terhadap apa yang diketahuinya, kemudian pengetahuan tersebut harus direalisasikan sendiri kemudian mengadakan penelitian serta mengetahui hubungan kausal, yaitu alasan dan alur pikirannya.

Menurut Dewey, tujuan pendidikan adalah mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki oleh peserta didik sehingga dapat berfungsi secara indiidual dan berfung si sebagai anggota masyarakat melalui penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran yang bersiffat aktif, ilmiah, dan memasyarakat serta berdasarkan kehidupan nyata yang dapat mengembangkan jiwa,pengetahuan,rasa tanggung jawab, ketrampilan, kemauan dan kehalusan budi pekerti.

E. Tujuan Pendidikan Nasional

Tujuan pendidikan nasional dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 adalah sebagai berikut : ‘ Pendidikn nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beraklak mulia, sehat, berilmu,cakap,kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab “.

III. ALIRAN-ALIRAN DALAM PENDIDIKAN

Ilmu pendidikan berasal dari berbagai ilmu seperti sosiologi,psikologi dan filsafat, sehingga dalam ilmu pendidikan terdapat bermacam-macam / beragam aliran

A. Empirisme

Aliran empirisme merupakan aliran yang mementingkan stimulus eksternal dalam perkenbangan manusia. Aliran ini menyatakan bahwa perkembangan anak tergantung pada lingkungan, sedangkan pambawaan lahir tidak dipentingkan. Tokoh utama dalam aliran ini adalah filsuf Inggris John Lock yang mengembangkan paham rasionalisme pada abat ke 18. Teori ini mengumpamakan anak yang lahir bagaikan kertas putih yang kosong yang dikenal dengan “ Tabularasa “, anak yang lahir adalah suci / fitrah.

B. Nativisme

Aliran ini menentang aliran empirisme, tokohnya adalah filsuf Jerman Schopenhauer : bahwa anak-anak yang lahir sudah memiliki pembawaan atau bakat yang akan berkembang menurut arahnya masing-masing. Aliran ini berkeyakinan bahwa manusia yang jahat akan menjadi jahat dan sebaliknya manusia yang baik akan menjadi baik. Singkatnya, nativisme menekankan kemampuan dalam diri anak, sedang faktor dari luar seperti pendidikan dan lingkungan kurang ada pengaruhnya.

C. Naturalisme

Tokoh aliran ini adalah seorang filsuf Prancis yakni, J.J Rousseaue pada abat 18. Natur dalam bahassa latin berarti alam. Selanjutnya Rousseoue mengatakan bahwa anak yang terlahir dalam keadaan baik biarkan berkembang secara alami. Ini artinya bahwa perkembangan anak yang dipengaruhi oleh pendidikan dirumah, sekolah maupun di masyarakat sebagai urun orang-orang dewasa malah akan merusak pembawaan anak yang baik.

D. Konvergensi

Konvergensi artinya titik pertemuan. Tokoh aliran konvergensi adalah William Stern( 1871-1939). Ia mengatakan bahwa manusia terlahir dengan pembawaan baik dan buruk. Faktor-faktor pembawaan dan lingkungan sama-sama memiliki pengaruh terhadap perkembangan anak. Aliran ini mengatakan bawa bakat yang dibawa anak tidak akan berkembang dengan baik jika dipengaruhi aleh lingkungan sang sesuai dengan perkembangannnya. Sehingga aliran ini menggabungkan antara pembawaan sejak lahir dan lingkungannya yang menyebabkan anak mendapatkan pengalaman.

IV TEORI-TEORI PENDIDIKAN

A. Behaviorisme

Dalam teori behaviorisme, untuk menjadi ilmu pengetahuan maka psikologi harus memfokuskan perhatiannya pada sesuatu yang bisa dieliti ligkungan dan perilaku, daripada fokus pada apa yang tersedia dalam individu seperti persepsi-persepsi, pikiran-pikiran, berbagi citra, perasaan-perasaan, dan sebagainya. Kerangka kerja tori pendidikan behaviorisme adalah Empirisme. Asumsi filosofis dari behaviorisme adalah nature of human being ( manusia tumbuh secara alami ). Latar belakang empirisme adalah How we know what we know.

Latar belakang yang mendasari pernyataan di atas adalah apabila kita pikirkan memiliki implikasi yang jauh dan dalam, yakni “ bagaimana kita tahu apa yang kita tahu “. Aliran behaviorisme didasarkan pada perubahan tinngkah laku yang dapat diamati. Aliran ini mencoba menerangaakan daam pembelajaran bagaimana lingkungan perpengaruh terhadap peerubahan tingkah laku. Menurut aliran ini tingkah laku dalam belajar akan berbah jika ada stimulus dan respon. Stimulus dapat berupa perlakuan yang dibeerikan pada siswa, sedang respon berupa perubahan tingkah laku yang terjadi pada siswa. Faktor lain yangtidak kalah peenting adalah reinforcement (penguatan), yaitu penguatan yang dapat memperkuat respon. Tokoh-tokoh aliran behaviorisme antara lain : Pavlov, Watson, Skiner, Hull, Guthrie,dan Thorndike.

Pemahaman Skiner tentang belajar, tingkah laku,serta hubungannya yang erat dengan lingkungan maka ia menyampaikan asumsi-asumsinya yang membentuk landasan untuk operant coditioning yang kemudian dijadikan sarana menggugat kondisioning klasik Pavlov, yaitu :
1. Belajar itu adalah tingkah laku
2. Perubahan tingkah laku (belajara) secara fungsional beerkaitan dengan adanya dalam kejadian-kejadian dilingkungan kondisi-kondisi lingkungan.
3. Hubungan yang berhukum antara tingkah laku dan lingkungan hany dapat ditentukan kalau sifat-sifat tingkah laku dan kondisi eksperimennya didefinisikan menurut sifat fisiknya dan diobservasi di bawah kondisi-kondisi yang dikontrol secara seksama.
4. Data dari studi eksperimental tingkah laku merupakan satu-satunya sumber informasi yang dapat diterima tentang penyebab terjadinya tingkah laku.
5. Tingkah laku individual merupakan sumber data yang cocok
6. Dinamika interaksi organisme dengan lingkungan itu sama untuk semua makluk hidup.

B. Kognitivisme

Dasar pemikiran teori belajar kognitivisme adalah rasional. Teori ini memiliki asumsi filosofis The way in which we learn. Pengetathualam aliran ini, kita belajar disebabkan kemampuan kita dalam menapsirkan peristiwa/kejadian yang terjadi dalam lingkungan. Jadi menurut teori ini bahwa belajar melibatkan proses berpikir yang kompleks. Tokoh teori Kognitivisme adalah Piaget, Bruner dan Ausebel.

1. Jean Peaget
Paget lahir di Neuchatel, Swiss tanggal 9 Agustus 1896. Fokus utama bidang penelitiannya dinamai “ Epistemologi “, yang berarti studi tentang perkembangan ilmu pengetahuan manusia. Teekait dengan penelitiannya, Peaget pernah mengatakan sejak usia balita, seseorang telah memiliki kemampuan tertentu untuk menghdap objek-objek yang ada disekitarnya. Kemampuan ini sangat sederhana yang disebut sensorik motor

2. Jerome Bruner

Ketika menjabat sebagai direktur pusat Studi Kognitif Universitas Harvard, merekomenasi rancangan perkembangan kognitif ntuk merancang kurikulum. Bruner menggambarkan seseorang yang berpengetahuan itu adalah sebagai seseoarang yang terampil dalam memecahkan masalah, artinya orang yang berpengetahuan itu mampu berinteraksi dengan lingkungan dalam menguji hipotesis dan menarik generalisasi. Jadi seharusnya kurikulum itu mendidik pengembangan dan penyelidikan (inquiri) serta penemuan ( diskoveri ).

Menurut Bruner, derajat perkembangan kognitif itu ada tiga tahap, yaitu :
a. Enaktif, yaitu merupakan representasi pengetahuan dalam melakukan tindakan, contohnya seorang anak yang mengatur keseimbangan di palang timbangan dengan jalan menyesuaikan kedudukan badanya,walaupun sebenarnya anak itu tidak dapat menjaelaskan prosedurnya.

b. Ikonik, yaitu perangkuman bayangan secara visual. Anak dalam tahap ini dapat mewujutkan palang keseimbangan dalam gambar atau diagram.

c. Simbolik, yakni dalam tahap ini digunakan kata-kata dan lambang-lambang lain untuk melukiskan pengalaman.

C. Konstruktivisme

Menurut Von Glasersfeld ( 1988 ), sebenarnya gagassan pokok konstruktivisme telah dimulai oleh Gambastissta Vico, selanjutnya pada tahun 1710 Gambastissta Vico Dalam De Antiquissima Italorum Sapientia berfilsafat bahwa “ Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan ciptaannya “. Berkaitan dengan hal itu Dia menjelaskan bahwa mengetahui bermakna berarti mengetahui bagaimana membuat sesuatu. Ini artinya seseorang itu baru mengetahui sesuatu jika ia dapat menjelaskan unsur-unsur apa yang membangun sesuatu itu.

Kaitannya dengan pembelajarn, menurut teori konstruktivisme yang menjadi dasar bahwa siswa memperoleh pengetahuan adalah karena keaktifan siswa itu sndiri. Teori ini adalah merupakan peningkatan teori yang pernah diungkapkan oleh Piaget, Vigotsky, dan Bruner. Konsep pembelajaran menurut konstruktivisme adalah suatu proses pembelajaran yang mengkondisikan siswa untuk proses aktif membangun konsep bari, pengertian baru dan pengetahuan baru berdasarkan data. Oleh karena itu, proses pembelajaran harus dirancang dan dikelolasedemikin rupa sehingga mampu mendorong sisiwa mengorganisasikan pengalamannya sendiri menjadi pengetahuan yang bermakna. Agar siswa memiliki kebiasaan berpikir maka kebebasan dan sikap belajar.

D. Teori Belajar Humanistik

Teori belajar yang humanistik pada dasarnya memiliki tujuan belajar untuk memanusiakan manusia. Oleh karena itu proses belajar dapat diangap berhasil jika si pembelajar telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Dengan kata lain, si pembelajar dalam proses belajarnya harus beusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Seccara singkat, pendekatan humanistik dalam pendidikan menekankan pada perkembangan positif, yaitu pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembang kan kemampuan tersebut. Tokoh-tokoh teori belajar humanistik :
a. Arthur W. Comb
Guru tidak dapat memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan siswa. Guru harus memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa , sehingga jika ingin mengubah perilaku siswa maka guru harus berusaha mengubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada.

Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi sisusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal makna yang diharapkan siswa tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Dalam hal ini yang penting adalah bagaimana membawa persepsi siswa untuk memperoleh makna belajar bagi pribadinya dari materi pelajran itu yang menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupn sehari-hari.

b. Abraham Maslow

Teori maslow didasarkan pada asumsi bahwa didalam di dalam diri individu ada dua hal, yaitu :
1). Suatu usaha positif untuk berkembang, dan
2). Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu . Maslow mengatakan bahwa individu berpeilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hierarkis. Pada diri setiap orang terdapat berbagai perasaan, seperti rasa takut untuk berusaha unuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut dengan apa yang telah ia miliki dan sebagainnya.

Namun, di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk kearah yang lebih maju kearah keutuhan, keunikan diri, kearaah berfungsinya semua kemampuan, kearah kepercayaan diri menghadapi dunia luar, dan pada saat yang sama ia juga dapat menerima diri sendiri.

c. Carl Rogers

Rogers membedakan dua tipe belajar, yaitu kognitif ( kebermaknaan ) dan experiential ( pengalaman/signifikansi ). Guru menghbungkan pengetahuan akademik kedalam pengetahuan terpakai, seperti mempelajari mesin dengan tujuan untuk memperbaiki mobil.

Experiential Learning menunjuk pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan siswa. Experiential Learning meliputi : keterbatasan siswa secara personal, berinisiatif, evaluasi oleh siswa sendiri, dan adannya efek yang membekas pada siswa. Menurut Rogers,yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru dalam memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu :
1). Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswatidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
2). Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
3). Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
4). Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern , berarti belajar tentang proses.

E. Prinip – prinsip belajar humaistik

1. Manusia mempunyai belajar alami
2. Belajar signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan.
3. Siswa mempunyai relevansi dengan maksud tertentu.
4. Belajar menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya.
5. Tugas belajar yang mengancam diri lebih mudah dirasakan apabila ancaan itu kecil.
6. Bila ancaman itu rendah terdapat pengalaman siswa dalam memperoleh cara belajar yang bermakna jika siswa melakukannya.
7. Belajar akan lancar jika siswa dilibatkan dalam proses belajar
8. Belajar yang melibatkan siswa seutuhnya dapat memberikan hasil yang mendalam
9. Kepercayaan pada diri siswa ditumbuhkan dengan membiasakan untuk mawas diri
10. Belajar sosial adalah belajar mengenai proses belajar.

V. PENDIDIKAN DAN NASIONALISME

A. Tantangan Pendidikan Nasional

Berdasarkan UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UU Dasar RI 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan zaman. Tujuan pendidikan kita adalah untuk berkembangnnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, beeraklak mulia, sehat, berilmu,cakap , kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demoratis.

Namun kenyataan aplikasi di lapangan tidaklah selalu baik, banyak kejadian-kejadian diberbagai daerah mulau motif ingin memerdekakan diri sampai perang antar suku/ras dan agma ( SARA ) yang semuannya akan berdampak kesengsaraan bagi bangsa Indonesia.

Konsep Bhineka Tunggal Ika telah mengalami pemutar balikan makna dan bias dalam intepretasinya. Dalam hal ini multi kulturalisme kurang mendapat ruang,sementara mono kulturalisme mendominasi. Pola sikap hidup dihampir setiap golongan masyaakat enderung mengedepankan kepentingan pribadi dan golongannya. Beragam perbedaan pendapat yang muncul kepermukaan lebih sering mengatasnamakan golongan atau partainya, bukan atas nama masyarakat Indonesia secara utuh.

Berdasarkan realita tersebut diharapkan adaanya suatu upaya yang sistematis yang mampu mengubah paradikma seluruh unsur dan tatanan dalam masyarakat maupun pemerintahan bahwa segala perbedaan merupakan kekayaan bukan sebagai masalah.

B. Pemahaman Multikultural

Multikultural berarti beraneka ragam kebudayan. Menurut Komrudin Hidayat, multikultural dalah tidak hanya merujuk pada kenyataan sosial antropologis adanya kelompok etnis, bahasa, dan agama yang berkembang di Indonesia tetapi juga mengasumsikan sebuah sikap demokratis dan egaliter untuk bisa menerima keragaman budaya.

Indonesia dibangun atas keragaman budaya yang patut dilestarikan dan menjadi kebangaan bangsa. Namun sangat disayangkan kondisi yang terjadi sekarang ini adalah degradasi akan rasa kebangsaan dan kebanggaan itu sendiri. Perbedaan yang seharusnya menjadi kekayaan budaya bangsa justru sering menjadi pemicu timbulnya permasalahan beberapa konplik bernunsa SARA.

C. Multikulturalisme

Adanya konflik SARA, salah satu penyebab utamannya adalah lemahnya pemahaman dan pemaknaan tentang konsep kearifan budaya. Dengan demikian konsep kearifan budaya dipandang perlu untuk dikenalkan pada masyarakat khususnya siswa.

Untuk dapat menghargai keragaman etnis, budaya dan agama diprlukan beberapa prasyarat( Komarudin Hidayat, 2004), yaiu :
1). Secara theologis-filosofis diperlukan kesadaran dan keyakinan bahwa setiap individu dan kelompok etnis itu unik, sehingga tumbuh keyakinan pula bahwa dalam keunikannya masing-masing memiliki kebaikan universalyang erbungkus dalam wadah budaya, bahasa dan agama yang beragam dan bersifat lokal.
2). Manusia secara psikologis memerlukan pengkondisian agar mempunyai sikap yang inklusif dan positif terhdap orang lain atau kelompok yang berbeda. Cara yang paling mudah untuk menumbuhkan sikap yang demikian adalah melalui contoh keseharian oleh orang tua (di rumah), guru (di sekolah ) dan pemuka agama dimasyaakat.
3). Desain kurikulum pendidikan dan kultur sekolah harus dirancang sedemikian rupa, sehingga anak didik mengalami secara langsung makna multikultural dengan panduan guru yang siap dan matang.
4). Pada tahap awal hendaknya diawali untuk mencari persamaan dan nilai – nilai universal dari keragaman budaya dan agama yang ada, sehingga aspek-aspek yang dianggap sensitif dan mudah menimbulkan konplik tidak menjadi isu yang dominan.
5). Dengan berbagai metode kreatif dan inovatifa hendaknya nilai-nilai luhur pancasila isegarkan kembali dan ditanamkam pada masyarakat dan peserta didik agar sense of citizenship dari sebuah bangsa –negara semakin kuat.

D. Pendidikan Toleransi Sebagai Wahana Rekonsiliasi Sosial

Bila selama Orde Baru yang menonjol adalah bentik – bntuk keseragaman, maka melalui pendidikan toleransi peserta didik diajak untuk menghayati suasana kebinekaan, sehingga suasana inklusif dan komunikatif akan terasa satu sama lain.

Secara psikologis, pendidikan toleransi dan empai mampu memperhalus sensibilitas manusia, membuatnya menyadari eksisensi dirinya sebagi bagian kecilng dari sistem sosial dan kosmos yang lebih besar. Dengan demikian melalui toleransi dan empati manusia menyerap perasaan dan pengalaman kehidupan orang lain yang berasal dari ranah geopoliik , geokultural dan geo etnis berbeda.

E. Sekolah Berorentasi Multikultural

Perbaikan pendidikan dengan mendudukan pendidikan sebagaimana fungsinya, yakni membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat secara operasional aadalah menempatkan sekolah sebagai agen multikulturalisme. Menurut Komarudin, ada prinsip-prinsip yang harus dipahami guru untuk mengarahkan sekolah dengan kultur yang berorentasi multikultural, sebagai berikut :

1). Setip anak adalah istimewa

Guru harus memandang bahwa setiap peserta didik adalah unik, istimewa dan terlahir dengan bakat yang berbeda-beda. Anak harus dipahami, diterima apa adanya, dicintai dan difasilitasi agar masing-masing tumbuh optimal sesuai bakat dan minatnya.
2). Sekolah yang ideal adalah sekolah yang mendukung multi intelligences peserta didik. Setiap peserta didik harus dipahami secara individual mengingat masing-masing individu memiliki kekuatan dan kelemahan intelligensea yang berbeda.

3). Active Learning

Guru harus dapat mengkondisikan siswa untuk aktif dan bebas untuk mengemukakan berbagai pikiran dan imajinasinya. Guru sebagai fasilitator senantiasa memberikan rambu-rambu,motivasi dan koreksi dengan semangat edukasi dan apresiasi.

Jika peserta didik terlatih bersikap asertif dan komunikatif maka proses dialog antar sesama teman akan tumbuh tanpa harus bersiap agresif dan menyakiti orang lain. Sikap demikian penting unuk mendampingai pertumbuhan siswa, sehingga pluralitas pemahaman, gagaan dan pilihan hidup akan dilihat sebagai sesuatu yang wajar, hahkan sebagai dinamika yang indah.

4). Universalitas Agama

Isu perbedaan agama sangat sensitif, sementara perkembangan sosial justru mengarah pada pluralitas pemeluk agama. Dengan dasar itu maka keragaman agama yang ada hendaknya didekati dengan dua cara yaiu :
a. Agama diposisikan sebagai fenomena sosial dan budaya yang perlu diketahui oleh siswa.
b. Diperkenalkan terlebih dahulu nilai-nilai universalitas agama, bahwa setiap agama pasti memiliki kesamaan dalam ajaran moral. Semua agama mengajarkan kepada pemeluknya untuk cinta damai, menolong sesama dan membenci semua kejahatan.

5). Semangat Kemanusiaan dan Keindonesiaan

Dari apa yang telah diuraikan diatas, salah satu kuncinya adalah bagaimana membangun kultur sekolah ( school culture ) yang mendorong pada kesadaran anak untuk berpihak kepada saudara-saudaranya. Peserta didik diharapkan memiliki sikap empati dan membanatau saudara-saudaranya yang terpinggirkan, mengingat masyarakat Indonesia yang multikultural.

VI MUTU PENDIDIKAN

A. Sekilas Tentang Mutu Pendidikan Indonesia

Menurut Paul Suparno SJ, pendidikan di Indonesia sedang dirundung masalah besar, yaitu :

1. Mutu pendidikan masih rendah
2. Sistem pembelajaran di sekolah-sekolah masih belum memadai
3. Krisis moral yang melanda masyarakat Indonesia.
Sebagai bahan perbandingan, dapat kita lihat permasalahan mutu yang diterapkan oleh negara lain. Di Amerika Serikat, faktor yang mempeangaruhi produktivitas tenaa kerja adalah pendidikan. Apabila kualitas tenaga kerja di negara itu mengalami permasalahan, seperti kurang terampil, tidak inovatif,sulit beradaptasi dan sikap-sikap lain yang mengarah pada penurunan kinerja, maka pendidkan dipermasalahkan.

Dalam menentukan tolok ukur mutu pendidikan lain di Amerika, lain lagi di Jerman. Di Jerman indikator ukuran mutu adalah bidang kognitif. Ukuranya adalah : 1). Memiliki prestasi tinggi di SMA dan dapat masuk di perguruan tinggi . 2). Anak-anak memiliki kemandirian dandisiplin yang tinggi dalam belajar. 3). Tumbuh sikap pantang meyerah.

Untuk Indonesia, untuk mendapatkan tolok ukur mutu dapatdilakukan dengan mengukur berdayanya layanan pendidikan. UU Sisdiknas No. 20 mengatakan bahwa fungsi pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan pembentukan watak serta peradapan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa, beraklak mulia,sehat, berilmucakap,kreatif,mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis.

B. Mengukur Mutu Pendidikan Indonesia

Langkah awal yang dilakukan pemerintah adalah menetapkan standar nasional pencapaian pendidikan. Kemudian di bentuk Badan Standar Nasional Pendidikan ( BSNP), yaitu sebuah badan mandiri dan independen yang bertugas mengembangkan,mengatur pelaksanaan dan mengevaluasi Standar Nasional Pendidikan.

Kewenangan BSNP dalam menjalankan tugasnya yaitu :
1. Mengembangkan Standar Nasional Pendidikan
2. Menyelenggarakan Ujian Nasional
3. Memberikan rekomendasi kepada pemerintah dan pemerintah daerah dalam penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan
4. Merumuskan kreteria kelulusan dari satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Berdasarkan ragam dan sasarannya, pencapaian mutu pandidikan dapat dilakukan melaui tiga cara, yaitu :
1. Akreditasi
2.
Pengertian akreditasi berdasarkan UU RI No.20/2003 Pasal 60 ayat (1) dan (3) adalah kegiatan yang dilakukan untuk menentukan kelayakan program dan satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan non formal pada setiap jenjang danjenis pendidikan berdasarkan kreteria yang bersifat terbuka.

3. Sertifikasi
Sertifikasi ( Certificate ) artinya kuwalifikasi seseorang atau barang. Sertifikat pendidik artinya suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa seseorang benar-benar memiliki kuwalifikasi seorang pendidik atau sebagai kuwalifikasi guru peofesional.

Guru dikatakan profeional maka harus memiliki kalifikasi akadmik, kompetensi,sertifikat pendidikan, sehat jasmani daan rohani serta memiliki kemampuan mewujutkan tujuan pendidikan nasional

4. Penjaminan Mutu Pendidikan

Dalam melaksanakan sistem penjaminan mutu tidak ada pola baku yang harus diikuti tetapi upaya peningkatan mutu tidak memiliki bentuknya. Hal inilah yang menjdi pehatian utama bagi setiap pimpinan institusi pendidikan dalam dalam peningkatan kualitas menejemen dan lulusan.


Sumber Bacaan : Landasan Pendidika Konsep dan Aplikasinya
Penulis : Dr. Sukardjo dan Ukim Komarudin, M.Pd
Penerbit : PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 03 Januari 2009